Jumat, 06 Oktober 2017

Pengantar Sistem Informasi Psikologi

A. Pengertian Informasi
Davis (1991) menyatakan bahwa informasi merupakan data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi penerima dan memiliki nilai nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan sekarang atau keputusan-keputusan mendatang.
Menurut Prasojo (2011), informasi adalah sesuatu atau kumpulan data yang telah diolah dan dapat digunakan sebagai dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan.
Informasi adalah sekumpulan fakta (data) yang diorganisasikan dengan cara tertentu sehingga mereka mempunyai arti bagi si penerima. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan jumlah gaji dengan jumlah jam bekerja, kita akan mendapatkan informasi yang berguna. Dengan kata lain, informasi datang dari data yang akan diproses (Sutarman, 2012).
Adapun Hutahaean (2014) mengungkapkan bahwa informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna dan lebih penting bagi penggunanya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan sekumpulan fakta (data) yang telah diolah menjadi sesuatu yang penting dan memiliki nilai/arti sehingga berguna dalam pengambilan keputusan. 

1. Syarat Informasi yang Baik
Menurut Parker (1989), sebuah informasi dapat dikatakan baik apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Ketersedian 
Salah satu syarat yang mendasar bagi suatu informasi adalah tersedianya data yang membentuk informasi itu sendiri. Informasi harus dapat diperoleh (accessible) bagi yang hendak memanfaatkannya.
b) Mudah dipahami 
Informasi harus mudah dipahami oleh pembuat keputusan, baik itu informasi yang menyangkut pekerjaan rutin maupun keputusan-keputusan yang bersifat strategis.
c) Relevan
Informasi yang diperlukan adalah yang benar-benar relevan dengan permasalahan, misi dan tujuan seseorang atau organisasi.
d) Bermanfaat
Informasi harus bermanfaat bagi seseorang atau organisasi, karena itu informasi harus tersaji ke dalam bentuk-bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh orang atau organisasi yang bersangkutan. 
e) Keterandalan 
Informasi harus diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan kebenarannya. Pengolah data atau pemberi informasi harus dapat menjamin tingkat kepercayaan yang tinggi atas informasi yang disajikan.
f) Akurat
Syarat ini mengharuskan bahwa informasi bersih dari kesalahan dan kekeliruan. Ini berarti bahwa informasi harus jelas dan secara akurat mencerminkan makna yang terkandung dari data pendukungnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agar dapat dikatakan baik, sebuah informasi memiliki enam syarat, yaitu ketersediaan, mudah dipahami, relevan, bermanfaat, keterandalan, dan akurat.

B. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
1. Pengertian Sistem
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari beberapa prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu tujuan tertentu (Setiawan, Wawan, & Munir, 2006).
Menurut Beynon dan Davies (2004), sebuah sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan komponen yang saling bergantung untuk menyelesaikan beberapa tujuan, memiliki stabilitas, dan dapat berguna jiki dilihat sebagai satu kesatuan. Secara umum, sebuah sistem terdiri dari input-process-output.

2. Pengertian Sistem Informasi 
Menurut Nash (dalam Djahir & Pratita, 2014), sistem informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bertujuan untuk menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakaian intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat. 
Sistem informasi menurut Rahmat (dalam Djahir & Pratita, 2014) adalah kegiatan atau aktifitas yang melibatkan serangkaian proses, berisi informasi-informasi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan kumpulan komponen yang terdiri atas masukan, pemrosesan, dan keluaran yang berfungsi untuk mengolah data/fakta yang ada menjadi sesuatu yang memiliki makna/nilai.  

3. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Sistem informasi psikologi mengandung pengertian tentang bagaimana seorang individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari lingkungan. Sistem informasi psikologi juga dapat dikatakan sebagai bagaimana respon individu terhadap informasi yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. 
Menurut Woolfolk (dalam Parkay & Stanford, 1992), sistem informasi psikologi sering pula disebut model pemrosesan informasi kognitif, karena sama halnya dengan sistem informasi pada umumnya yang terdiri atas input-pemrosesan-output, dalam proses ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
a) Sensory atau Intake Register
Informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan dalam periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b) Working Memory (Short-term Memory)
Pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory. Di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory ialah sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
c) Long-term Memory
Long-term memory secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki seseorang. Kelemahannya adalah sulit dalam mengakses informasi yang tersimpan didalamnya. Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (memori jangka panjang), dan strategi umum sebagai pemecahan masalah (materi kreativitas).



Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi merupakan proses mengartikan/mengenali stimulus dari lingkungan sekitar (dalam sistem informasi disebut sebagai input/masukan) yang diterima oleh indera manusia yang kemudian masuk ke dalam short-term memory  dan apabila dirasa penting, maka stimulus tersebut akan disimpan ke dalam long-term memory (dalam sistem informasi disebut sebagai pemrosesan). Saat dibutuhkan, maka otak manusia akan bekerja untuk memanggil/mengingat kembali stimulus yang telah tersimpan di dalam long-term memory yang kemudian di dalam sistem informasi disebut sebagai output/hasil.














DAFTAR PUSAKA

Beynon., Paul., dan Davies. (2004). Database system third edition. New York: Palgrave Macmillan.

Davis, Gordon B. (1991). Kerangka dasar sistem informasi manajemen bagian 1. Jakarta: PT. Pustaka Binamas Pressindo.

Djahir,Y & Pratita,D. (2014). Bahan ajar sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Deepublish.

Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.

Prasojo. (2011). Pengantar sistem informasi manajemen. Bandung: CV. Remadja Karya.

Setiawan., Wawan., dan Munir. (2006). Pengantar teknologi informasi: Sistem informasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sutarman. (2012). Pengantar sistem informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar