Contoh Kasus Kesehatan Mental di Indonesia
Kasus yang akan saya paparkan ini kebetulan
dialami oleh kerabat saya. Ibu Rani (nama samaran) adalah ibu 7 anak yang sangat
bertanggung jawab, ia juga menyayangi anak-anaknya. Dalam kesehariannya, Ibu
Rani senang menjahit dan tak jarang ia membuatkan sesuatu untuk anak-anaknya.
Namun, sikap dan perilakunya mulai
berubah sejak ia memasuki usia dewasa madya. Ia hanya duduk terdiam di kursi
tanpa jelas sedang memikirkan apa. Ia sering terlihat seperti sedang berbicara
dengan orang lain, padahal dalam kenyataannya ia sedang duduk seorang diri.
Lalu tiba-tiba saja ia bisa tertawa terbahak-bahak. Ibu Rani mulai menganggap
bahwa dirinya merupakan istri Allah. Ia selalu
berkata bahwa jiwa Ibu Rani sebenarnya telah tiada dan yang ada di dalam tubuh
itu ialah orang lain. Ibu Rani juga selalu merasa bahwa dirinya dikontrol oleh seorang
lelaki yang ia sebut dengan “bapak-bapak”, dan seorang lelaki itu kerap
memarahinya apabila ia melakukan sesuatu.
Selain itu, ibu Rani selalu bercerita
bahwa di depan rumahnya selalu dipenuhi oleh orang-orang dan mereka sangat
meng-agung-agungkan, bahkan menyembah beliau. Apabila ada tetangganya yang
lewat di depan rumahnya, ia kerap kali berkata bahwa ia bisa mendengar suara
hati dan membaca pikiran mereka, ia percaya orang itu menghina dan seringkali
ingin menyiksa dirinya. Tak jarang, Ibu Rani pun mendengar bisikan-bisikan yang
menyuruhnya untuk membunuh anaknya. Sampai suatu waktu, tiba-tiba Ibu Rani
melemparkan piring dan gelas ke arah anaknya dan berkata bahwa anaknya harus
mati. Semakin hari, Ibu Rani pun berbicara yang tidak beraturan dan sering
tidak masuk akal.
Keadaan yang dialami
oleh Ibu Rani disebut dengan skizofrenia. Kondisi skizofrenia merupakan jenis
ganguan otak yang mempengaruhi cara seseorang berperilaku, berpikir, dan
melihat sekelilingnya. Hal yang paling menonjol dari penderita skizofrenia
adalah pandangan yang tidak pasti mengenai kenyataan, sehingga terdapat kecenderungan
penderita skizofrenia yang dapat berhalusinasi, berbicara dengan cara bicara
yang aneh yang membingungkan, paranoid jika orang lain sedang berusaha melukai
dirinya hingga merasa dirinya sedang diawasi.
Akibat dari
kecenderungan tersebut, penderita skizofrenia sangat sulit membiasakan diri
dalam aktivitas sehari-hari dan cenderung menarik diri dari dunia luar atau
bertingkah laku dengan rasa takut dan kebingungan. Meski tergolong serius,
penderita skizofrenia dapat memperoleh pertolongan berupa dukungan obat-obatan
dan terapi sehingga dapat menjalani kehidupan yang normal.
Gejala
umum skizofrenia adalah:
a)
Delusi (waham), suatu keyakinan yang
salah yang tidak dapat dijelaskan oleh latar belakang budaya pasien ataupun
pendidikannya. Pasien tidak dapat diyakinkan oleh orang lain bahwa keyakinanya
salah, meskipun banyak bukti kuat yang dapat diajukan untuk membantah keyakinan
pasien tersebut.
b)
Halusinasi adalah persepsi yang salah,
tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat
berwujud penginderaan kelima yang keliru, tetapi yang paling sering adalah
halusinasi pendengaran dan hausinasi penglihatan.
c)
Pembicaraan kacau, terdapat asosiasi
yang terlalu longgar. Asosiasi mental tidak diatur oleh logika, tetapi oleh
aturan-aturan tertentu yang hanya dimiliki oleh pasien.
d)
Tingkah laku kacau, bertngkah laku yang
tidak terarah pada tujuan tertentu.
e)
Simtom-simtom negative, berkurangnya
ekspresi emosi, berkurangnya kelancaran dan isi pembicaraan, kehilangan minat
untuk melakukan berbagai hal.
Skizofrenia
menurut teori psikologi:
a.
Teori Psikoanalitik
Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari fiksasi
perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis. Jika neurosis
merupakan konflik antara id dan ego, maka psikosis merupakan konflik antara ego
dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan ego (ego defect) memberikan kontribusi
terhadap munculnya simptom skizofrenia. Disintegrasi ego yang terjadi pada
pasien skizofrenia merepresentasikan waktu dimana ego belum atau masih baru
terbentuk.
Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal
serta kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil dari relasi obyek yang
buruk-turut memperparah symptom skizofrenia. Hal utama dari teori Freud tentang
skizofrenia adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon terhadap
frustasi dan konflik dengan orang lain.
Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia
disebabkan oleh kesulitan interpersonal yangyang etrjadi sebelumnya, terutama
yang berhubungan dengan apa yang disebutnya pengasuhan ibu yang salah, yaitu
cemas berlebihan.
Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia,
kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan kontrol terhadap
dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut terjadi akibat
distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.
Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi
masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin
mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur. Halusinasi
mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien untuk menghadapi
realitas yang obyektif dan mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau
harapan terdalam yang dimilikinya.
b.
Teori Psikodinamik
Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud, pandangan
psikodinamik setelahnya lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap berbagai
stimulus. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap
fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan mengakibatkan stress dalam
hubungan interpersonal.
Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positifdiasosiasikan
dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat
kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan
erat dengan faktor biologis, dan karakteristiknya adalah absennya
perilaku/fungsi tertentu. Sedangkan gangguan dalam hubungan
interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin
juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar.
Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan psikodinamik
dibangun berdasarkan pemikiran bahwa symptom-simptom psikotik memiliki makna
dalam skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada pasien mungkin timbul setelah
harga dirinya terluka. Selain itu, menurut pendekatan ini, hubungan dengan
manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap skizofrenia.
c.
Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa
kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara
pikir yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga
memiliki masalah emosional.
Dapat kita ketahui
bahwa skizofrenia merupakan salah satu dari penyakit yang berkaitan dengan
kesehatan mental. Berdasarkan pengalaman saya akan kesehatan mental ini, dapat
saya sebutkan bahwa:
1.
Gangguan mental minor
seperti kecemasan, depresi atau gangguan mental dengan keluhan fisik sering
tidak disadari sebagai gangguan mental, sehingga biasanya keluarga penderita
hanya membawanya berobat ke dokter. Ketika dokter hanya fokus pada keluhan
fisik saja maka akan terjadi pemeriksaan dan pengobatan yang sebenarnya tidak
diperlukan. Masih banyak dokter yang tidak memperhatikan bahwa latar belakang
permasalahan kesehatan pasiennya ialah gangguan mental, sehingga hal ini akan
mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak efektif.
2.
Stigma => orang yang
sakit secara mental dibawa ke dukun dll. Masih banyak masyarakat
Indonesia, khususnya keluarga dari kerabat saya tersebut, yang menganggap bahwa
gangguan mental ini merupakan ulah dari roh-roh jahat. Tidak jarang keluarga
dari Ibu Rani mengajaknya untuk berobat ke kyai atau “orang pintar” karena
mereka mengira bahwa Ibu Rani ‘kemasukan roh jahat’.
3.
Mereka yang tidak memahami kesehatan
mental akan tidak peduli kepada keluarga yang menderita gangguan mental. Hal ini
akan mempengaruhi keadaan penderita karena tidak adanya dukungan sosial.
4.
Bagi masyarakat yang sudah paham akan
penyakit yang berhubungan dengan kesehatan mental, namun didaerahnya belum
terdapat mental hospital, harus
mengeluarkan banyak waktu dan biaya untuk memperoleh pelayanan terdekat. Hal ini,
bisa saja menjadi alasan mengapa orang-orang tidak segera mendatangi mental hospital saat mengalami
tanda-tanda gangguan mental.
Apabila ada kerabat kita yang mengalami
gejala-gejala akan gangguan mental, maka sebaiknya:
1.
Kita mendukungnya untuk menemui
psikiater. Tanpa kita sadari, banyak penderita yang sudah memutuskan untuk
menemui psikiater, tetapi saat ia berbicara menganai keputusannya kepada
keluarganya, mereka justru melarang hal itu. Karena sebagian besar masih
beranggapan bahwa psikiater hanya untuk orang gila. Dan meminum obat-obatan
anti-depresan sangat tidak baik.
2.
Menurukan stigma bahwa gangguan mental
merupakan ulah dari roh-roh jahat, sehingga masyarakat dapat menerima keadaan
ini dan tidak menambah beban si penderita.
Sumber:
Bab 2. Universitas Sumatera Utara. diiambil
pada tanggal 17 Juni 2016, dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40362/4/Chapter%20II.pdf.
dr. Yuindartanto, Andre. (2009). Skizofrenia. Diambil pada tanggal 17
Juni 2016, dari https://yumizone.wordpress.com/2009/01/10/skizofrenia/.
Skizofrenia, Ini Ciri-Cirinya. Diambil pada
tanggal 17 Juni 2016, dari www. meetdoctor.com/mobile/article/skizofrenia-ini-ciri-cirinya.
