Jumat, 17 Juni 2016

Kesehatan Mental - Kasus Skizofrenia di Indonesia

Contoh Kasus Kesehatan Mental di Indonesia

Kasus yang akan saya paparkan ini kebetulan dialami oleh kerabat saya. Ibu Rani (nama samaran) adalah ibu 7 anak yang sangat bertanggung jawab, ia juga menyayangi anak-anaknya. Dalam kesehariannya, Ibu Rani senang menjahit dan tak jarang ia membuatkan sesuatu untuk anak-anaknya.
Namun, sikap dan perilakunya mulai berubah sejak ia memasuki usia dewasa madya. Ia hanya duduk terdiam di kursi tanpa jelas sedang memikirkan apa. Ia sering terlihat seperti sedang berbicara dengan orang lain, padahal dalam kenyataannya ia sedang duduk seorang diri. Lalu tiba-tiba saja ia bisa tertawa terbahak-bahak. Ibu Rani mulai menganggap bahwa dirinya merupakan  istri Allah. Ia selalu berkata bahwa jiwa Ibu Rani sebenarnya telah tiada dan yang ada di dalam tubuh itu ialah orang lain. Ibu Rani juga selalu merasa bahwa dirinya dikontrol oleh seorang lelaki yang ia sebut dengan “bapak-bapak”, dan seorang lelaki itu kerap memarahinya apabila ia melakukan sesuatu.
Selain itu, ibu Rani selalu bercerita bahwa di depan rumahnya selalu dipenuhi oleh orang-orang dan mereka sangat meng-agung-agungkan, bahkan menyembah beliau. Apabila ada tetangganya yang lewat di depan rumahnya, ia kerap kali berkata bahwa ia bisa mendengar suara hati dan membaca pikiran mereka, ia percaya orang itu menghina dan seringkali ingin menyiksa dirinya. Tak jarang, Ibu Rani pun mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk membunuh anaknya. Sampai suatu waktu, tiba-tiba Ibu Rani melemparkan piring dan gelas ke arah anaknya dan berkata bahwa anaknya harus mati. Semakin hari, Ibu Rani pun berbicara yang tidak beraturan dan sering tidak masuk akal.

Keadaan yang dialami oleh Ibu Rani disebut dengan skizofrenia. Kondisi skizofrenia merupakan jenis ganguan otak yang mempengaruhi cara seseorang berperilaku, berpikir, dan melihat sekelilingnya. Hal yang paling menonjol dari penderita skizofrenia adalah pandangan yang tidak pasti mengenai kenyataan, sehingga terdapat kecenderungan penderita skizofrenia yang dapat berhalusinasi, berbicara dengan cara bicara yang aneh yang membingungkan, paranoid jika orang lain sedang berusaha melukai dirinya hingga merasa dirinya sedang diawasi.
Akibat dari kecenderungan tersebut, penderita skizofrenia sangat sulit membiasakan diri dalam aktivitas sehari-hari dan cenderung menarik diri dari dunia luar atau bertingkah laku dengan rasa takut dan kebingungan. Meski tergolong serius, penderita skizofrenia dapat memperoleh pertolongan berupa dukungan obat-obatan dan terapi sehingga dapat menjalani kehidupan yang normal.

Gejala umum skizofrenia adalah:
a)      Delusi (waham), suatu keyakinan yang salah yang tidak dapat dijelaskan oleh latar belakang budaya pasien ataupun pendidikannya. Pasien tidak dapat diyakinkan oleh orang lain bahwa keyakinanya salah, meskipun banyak bukti kuat yang dapat diajukan untuk membantah keyakinan pasien tersebut.
b)      Halusinasi adalah persepsi yang salah, tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya. Halusinasi dapat berwujud penginderaan kelima yang keliru, tetapi yang paling sering adalah halusinasi pendengaran dan hausinasi penglihatan.
c)      Pembicaraan kacau, terdapat asosiasi yang terlalu longgar. Asosiasi mental tidak diatur oleh logika, tetapi oleh aturan-aturan tertentu yang hanya dimiliki oleh pasien.
d)     Tingkah laku kacau, bertngkah laku yang tidak terarah pada tujuan tertentu.
e)      Simtom-simtom negative, berkurangnya ekspresi emosi, berkurangnya kelancaran dan isi pembicaraan, kehilangan minat untuk melakukan berbagai hal.

Skizofrenia menurut teori psikologi:
a.       Teori Psikoanalitik
Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari fiksasi perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis. Jika neurosis merupakan konflik antara id dan ego, maka psikosis merupakan konflik antara ego dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan ego (ego defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom skizofrenia. Disintegrasi ego yang terjadi pada pasien skizofrenia merepresentasikan waktu dimana ego belum atau masih baru terbentuk.
Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil dari relasi obyek yang buruk-turut memperparah symptom skizofrenia. Hal utama dari teori Freud tentang skizofrenia adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon terhadap frustasi dan konflik dengan orang lain.
Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia disebabkan oleh kesulitan interpersonal yangyang etrjadi sebelumnya, terutama yang berhubungan dengan apa yang disebutnya pengasuhan ibu yang salah, yaitu cemas berlebihan.
Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia, kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan kontrol terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.
Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur. Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien untuk menghadapi realitas yang obyektif dan mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya.

b.      Teori Psikodinamik
Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud, pandangan psikodinamik setelahnya lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap berbagai stimulus. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal.
Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positifdiasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan erat dengan faktor biologis, dan karakteristiknya adalah absennya perilaku/fungsi tertentu. Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar.
Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan psikodinamik dibangun berdasarkan pemikiran bahwa symptom-simptom psikotik memiliki makna dalam skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada pasien mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. Selain itu, menurut pendekatan ini, hubungan dengan manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap skizofrenia.

c.       Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara pikir yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga memiliki masalah emosional.

Dapat kita ketahui bahwa skizofrenia merupakan salah satu dari penyakit yang berkaitan dengan kesehatan mental. Berdasarkan pengalaman saya akan kesehatan mental ini, dapat saya sebutkan bahwa:
1.      Gangguan mental minor seperti kecemasan, depresi atau gangguan mental dengan keluhan fisik sering tidak disadari sebagai gangguan mental, sehingga biasanya keluarga penderita hanya membawanya berobat ke dokter. Ketika dokter hanya fokus pada keluhan fisik saja maka akan terjadi pemeriksaan dan pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan. Masih banyak dokter yang tidak memperhatikan bahwa latar belakang permasalahan kesehatan pasiennya ialah gangguan mental, sehingga hal ini akan mengakibatkan penanganan yang diberikan tidak efektif.
2.      Stigma => orang yang sakit secara mental dibawa ke dukun dll. Masih banyak masyarakat Indonesia, khususnya keluarga dari kerabat saya tersebut, yang menganggap bahwa gangguan mental ini merupakan ulah dari roh-roh jahat. Tidak jarang keluarga dari Ibu Rani mengajaknya untuk berobat ke kyai atau “orang pintar” karena mereka mengira bahwa Ibu Rani ‘kemasukan roh jahat’.
3.      Mereka yang tidak memahami kesehatan mental akan tidak peduli kepada keluarga yang menderita gangguan mental. Hal ini akan mempengaruhi keadaan penderita karena tidak adanya dukungan sosial.
4.      Bagi masyarakat yang sudah paham akan penyakit yang berhubungan dengan kesehatan mental, namun didaerahnya belum terdapat mental hospital, harus mengeluarkan banyak waktu dan biaya untuk memperoleh pelayanan terdekat. Hal ini, bisa saja menjadi alasan mengapa orang-orang tidak segera mendatangi mental hospital saat mengalami tanda-tanda gangguan mental.
Apabila ada kerabat kita yang mengalami gejala-gejala akan gangguan mental, maka sebaiknya:
1.      Kita mendukungnya untuk menemui psikiater. Tanpa kita sadari, banyak penderita yang sudah memutuskan untuk menemui psikiater, tetapi saat ia berbicara menganai keputusannya kepada keluarganya, mereka justru melarang hal itu. Karena sebagian besar masih beranggapan bahwa psikiater hanya untuk orang gila. Dan meminum obat-obatan anti-depresan sangat tidak baik.
2.      Menurukan stigma bahwa gangguan mental merupakan ulah dari roh-roh jahat, sehingga masyarakat dapat menerima keadaan ini dan tidak menambah beban si penderita.


Sumber:
Bab 2. Universitas Sumatera Utara. diiambil pada tanggal 17 Juni 2016, dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/40362/4/Chapter%20II.pdf.
dr. Yuindartanto, Andre. (2009). Skizofrenia. Diambil pada tanggal 17 Juni 2016, dari https://yumizone.wordpress.com/2009/01/10/skizofrenia/.
Skizofrenia, Ini Ciri-Cirinya. Diambil pada tanggal 17 Juni 2016, dari www. meetdoctor.com/mobile/article/skizofrenia-ini-ciri-cirinya.