Jumat, 10 November 2017

Sistem Informasi Berbasis Komputer



A.    Pengertian Sistem Informasi Berbasis Komputer / Computer Based Information System (CBIS)

Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan suatu sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. CBIS mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.
Secara teori, penerapan sebuah sistem informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi, pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. Berikut penjelasan masing-masing istilah tersebut.
1.      Data
Menurut berbagai kamus bahasa Inggris-Indonesia (dalam Satria, 2012), data diterjemahkan sebagai istilah yang berasal dari kata “datum” yang berarti fakta atau bahan-bahan keterangan.
Dari sudut pandang bisnis, pengertian data bisnis merupakan deskripsi organisasi tentang suatu sumber daya dan kejadian (transaksi) yang terjadi (dalam Satria, 2012). Pengertian yang lain (dalam Satria, 2012) mengatakan bahwa data merupakan deskripsi dari sesuatu dan kejadian yang kita hadapi.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.

2.      Informasi
Menurut Cushing (dalam Satria, 2012), informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya Sedangkan Davis (dalam Satria, 2012) menyebut informasi sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan. Adapun menurut Dearden dan Anthony (dalam Satria, 2012), informasi ialah suatu kenyataan, data, maupun item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya. Informasi menurut Simkin dan Moscove (dalam Satria, 2012) dalam merupakan kenyataan atau bentuk-bentuk yang berguna yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.
Berdasarkan keempat pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya serta menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.

3.      Sistem Informasi
Menurut Satria (2012), sistem informasi merupakan sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.
  
4.      Basis Komputer
Sistem informasi berbasis komputer mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi (Satria, 2012). Secara teori, penerapan sebuah sistem informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.

B.     Evolusi Sistem Informasi Berbasis Komputer / Computer Based Information System (CBIS)

1.      Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
Sistem pemrosesan transaksi merupakan jenis sistem yang pertama kali di impelementasikan. Fokus utama sistem ini adalah pada data transaksi sistem informasi yang digunakan untuk menghimpun, menyimpan, dan memproses data transaksi, serta seringkali mengendalikan keputusan yang merupakan bagian dari transasksi. Misalnya yang mengendalikan keputusan adalah sistem pemrosesan transaksi yang sekaligus dapat memvalidasi keabsahan kartu kredit atau mencarikan rute pesawat terbang yang terbaik sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Nama aplikasi akuntansi berbasis komputer pada awalnya adalah pengolahan data elektronik (EDP), kemudian berubah menjadi Data Prosesing (DP) dan Sistem Informasi Akuntansi (SIA).
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) melaksanakan aplikasi akuntansi perusahaan. Aplikasi ini ditandai dengan volume pengolahan data yang tinggi, dimana pengolahan data terdiri dari 4 tugas utama, yaitu pengumpulan data, manipulasi data, penyimpanan data, dan penyiapan dokumen.
Sistem Informasi Akuntansi (SIA) merupakan suatu sistem yang bertugas mengumpulkan data yang menjelaskan kegiatan perusahaan, mengubah data tersebut menjadi informasi, serta menyediakan informasi bagi pemakai didalam maupun diluar perusahaan. SIA adalah satu-satunya CBIS yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan informasi di luar perusahaan. SIA bertanggungjawab memenuhi kebutuhan informasi bagi tiap-tiap elemen lingkungan.

2.      Fokus Informasi (SIM - Sistem Informasi Manajemen)
Tahun 1964 diperkenalkan satu generasi baru alat penghitung yang mempengaruhi cara penggunaan komputer. Konsep penggunaan komputer sebagai SIM dipromosikan oleh pembuat komputer untuk mendukung peralatan baru tersebut. Konsep SIM menyadari bahwa aplikasi komputer harus diterapkan untuk tujuan utama menghasilkan informasi manajemen. Konsep ini segera diterima oleh perusahaan besar karena dengan adanya menajemen informasi, perusahaan akan mudah mendapatkan informasi yang akurat dan tepat guna mendukung dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan tersebut. Adapun fungsi dari sistem informasi manajemen, yaitu sebagai berikut :
a)    Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya perantara sistem informasi.
b)   Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
c)    Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
d)   Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
e)    Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
f)    Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.
g)   Bank menggunakan sistem informasi untuk mengolah cek-cek nasabah dan membuat berbagai laporan rekening koran dan transaksi yang terjadi.
h)   Perusahaan menggunakan sistem informasi untuk mempertahankan persediaan pada tingkat paling rendah agar konsisten dengan jenis barang yang tersedia.

3.      Fokus Pada Pendukung Keputusan (SPK – Sistem Penunjang Keputusan)
Sistem pendukung keputusan  (decision support systems disingkat DSS) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis manajemen pengetahuan) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik.
Menurut Moore and Chang, SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa.Berikut merupakan tahapan SPK:
a)    Definisi masalah
b)    Pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan
c)     pengolahan data menjadi informasi baik dalam bentuk laporan grafik maupun tulisan
d)    menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam persentase)
Adapun tujuan dari SPK ialah membantu menyelesaikan masalah semi-terstruktur, mendukung manajer dalam mengambil keputusan, dan meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan. Dalam pemrosesannya, SPK dapat menggunakan bantuan dari sistem lain seperti Artificial Intelligence, Expert Systems, Fuzzy Logic, dll.

4.      Fokus Pada Komunikasi (Otomatisasi Kantor)
Pada waktuSistem Penunjang Keputusan (SPK) berkembang, perhatian juga difokuskan pada Otomatisasi Kantor (Office Automation/OA). Otomatisasi Kantor memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas diantara para manajer dan pekerja kantor. Otomatisasi Kantor merupakan sebuah rencana untuk menggabungkan teknologi tinggi melalui perbaikan proses pelaksanaan pekerjaan demi meningkatkan produktifitas pekerjaan.
Asal mula otomatisasi kantor di awal 1960-an, ketika IBM menciptakan istilah word processing untuk menjelaskan kegaitan devisi mesin tik listriknya. Bukti nyata, pada tahun 1964, ketika IBM memasarkan mesin yang disebut Magnetic Tape/Selectric Typewriter (MT/ST) yaitu mesin ketik yang dapat mengetik kata-kata yang telah direkam dalam pita magnetik secara otomatis.
Otomatisasi Kantor adalah penggunaan alat elektronik untuk memudahkan komunikasi formal dan informal terutama berkaitan dengan komunikasi informasi dengan orang-orang di dalam dan di luar perusahaan untuk meningkatkan produktivitas.

5.      Fokus Konsultasi (Sistem Pakar)
Ide dasar Sistem Pakar adalah komputer dapat terprogram untuk melaksanakan sebagian penalaran logis yang sama seperti manusia. Sistem Pakar adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai seorang spesialis dalam suatu bidang. Sistem yang menggambarkan segala macam sistem yang menerapkan kecerdasan buatan untuk pemecahan masalah dinamakan dengan sistem berbasis pengetahuan (knowledge-bases sistems).
Sistem Pakar adalah suatu program komputer yang mengandung pengetahuan dari satu atau lebih pakar manusia mengenai suatu bidang spesifik. Jenis program ini pertama kali dikembangkan oleh periset kecerdasan buatan pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an dan diterapkan secara komersial selama 1980-an. Bentuk umum Sistem Pakar adalah suatu program yang dibuat berdasarkan suatu set aturan yang menganalisis informasi (biasanya diberikan oleh pengguna suatu sistem) mengenai suatu kelas masalah spesifik serta analisis matematis dari masalah tersebut. Tergantung dari desainnya, sistem pakar juga mampu merekomendasikan suatu rangkaian tindakan pengguna untuk dapat menerapkan koreksi. Sistem ini memanfaatkan kapabilitas penalaran untuk mencapai suatu kesimpulan.


        
Daftar Pustaka

Afdillah, Sendy Rahmawati. (2015). Pengertian computer based information system (CBIS). Diakses 10 November 2017 dari http://sendyrahmawatiafdillah.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-computer-based-information.html

Satria, Febrian. (2012). Computer based information system (CBIS) pengertian CBIS. Diakses 10 November 2017 dari https://febriansatria.wordpress.com/2012/11/07/computer-based-information-system-cbis-pengertian-cbis/





Jumat, 06 Oktober 2017

Pengantar Sistem Informasi Psikologi

A. Pengertian Informasi
Davis (1991) menyatakan bahwa informasi merupakan data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi penerima dan memiliki nilai nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan sekarang atau keputusan-keputusan mendatang.
Menurut Prasojo (2011), informasi adalah sesuatu atau kumpulan data yang telah diolah dan dapat digunakan sebagai dasar yang kuat dalam pengambilan keputusan.
Informasi adalah sekumpulan fakta (data) yang diorganisasikan dengan cara tertentu sehingga mereka mempunyai arti bagi si penerima. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan jumlah gaji dengan jumlah jam bekerja, kita akan mendapatkan informasi yang berguna. Dengan kata lain, informasi datang dari data yang akan diproses (Sutarman, 2012).
Adapun Hutahaean (2014) mengungkapkan bahwa informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna dan lebih penting bagi penggunanya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan sekumpulan fakta (data) yang telah diolah menjadi sesuatu yang penting dan memiliki nilai/arti sehingga berguna dalam pengambilan keputusan. 

1. Syarat Informasi yang Baik
Menurut Parker (1989), sebuah informasi dapat dikatakan baik apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Ketersedian 
Salah satu syarat yang mendasar bagi suatu informasi adalah tersedianya data yang membentuk informasi itu sendiri. Informasi harus dapat diperoleh (accessible) bagi yang hendak memanfaatkannya.
b) Mudah dipahami 
Informasi harus mudah dipahami oleh pembuat keputusan, baik itu informasi yang menyangkut pekerjaan rutin maupun keputusan-keputusan yang bersifat strategis.
c) Relevan
Informasi yang diperlukan adalah yang benar-benar relevan dengan permasalahan, misi dan tujuan seseorang atau organisasi.
d) Bermanfaat
Informasi harus bermanfaat bagi seseorang atau organisasi, karena itu informasi harus tersaji ke dalam bentuk-bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh orang atau organisasi yang bersangkutan. 
e) Keterandalan 
Informasi harus diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan kebenarannya. Pengolah data atau pemberi informasi harus dapat menjamin tingkat kepercayaan yang tinggi atas informasi yang disajikan.
f) Akurat
Syarat ini mengharuskan bahwa informasi bersih dari kesalahan dan kekeliruan. Ini berarti bahwa informasi harus jelas dan secara akurat mencerminkan makna yang terkandung dari data pendukungnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agar dapat dikatakan baik, sebuah informasi memiliki enam syarat, yaitu ketersediaan, mudah dipahami, relevan, bermanfaat, keterandalan, dan akurat.

B. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
1. Pengertian Sistem
Sistem adalah suatu jaringan kerja dari beberapa prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu tujuan tertentu (Setiawan, Wawan, & Munir, 2006).
Menurut Beynon dan Davies (2004), sebuah sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan komponen yang saling bergantung untuk menyelesaikan beberapa tujuan, memiliki stabilitas, dan dapat berguna jiki dilihat sebagai satu kesatuan. Secara umum, sebuah sistem terdiri dari input-process-output.

2. Pengertian Sistem Informasi 
Menurut Nash (dalam Djahir & Pratita, 2014), sistem informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bertujuan untuk menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakaian intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat. 
Sistem informasi menurut Rahmat (dalam Djahir & Pratita, 2014) adalah kegiatan atau aktifitas yang melibatkan serangkaian proses, berisi informasi-informasi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan kumpulan komponen yang terdiri atas masukan, pemrosesan, dan keluaran yang berfungsi untuk mengolah data/fakta yang ada menjadi sesuatu yang memiliki makna/nilai.  

3. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Sistem informasi psikologi mengandung pengertian tentang bagaimana seorang individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari lingkungan. Sistem informasi psikologi juga dapat dikatakan sebagai bagaimana respon individu terhadap informasi yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. 
Menurut Woolfolk (dalam Parkay & Stanford, 1992), sistem informasi psikologi sering pula disebut model pemrosesan informasi kognitif, karena sama halnya dengan sistem informasi pada umumnya yang terdiri atas input-pemrosesan-output, dalam proses ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
a) Sensory atau Intake Register
Informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan dalam periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b) Working Memory (Short-term Memory)
Pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory. Di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory ialah sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
c) Long-term Memory
Long-term memory secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki seseorang. Kelemahannya adalah sulit dalam mengakses informasi yang tersimpan didalamnya. Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (memori jangka panjang), dan strategi umum sebagai pemecahan masalah (materi kreativitas).



Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi merupakan proses mengartikan/mengenali stimulus dari lingkungan sekitar (dalam sistem informasi disebut sebagai input/masukan) yang diterima oleh indera manusia yang kemudian masuk ke dalam short-term memory  dan apabila dirasa penting, maka stimulus tersebut akan disimpan ke dalam long-term memory (dalam sistem informasi disebut sebagai pemrosesan). Saat dibutuhkan, maka otak manusia akan bekerja untuk memanggil/mengingat kembali stimulus yang telah tersimpan di dalam long-term memory yang kemudian di dalam sistem informasi disebut sebagai output/hasil.














DAFTAR PUSAKA

Beynon., Paul., dan Davies. (2004). Database system third edition. New York: Palgrave Macmillan.

Davis, Gordon B. (1991). Kerangka dasar sistem informasi manajemen bagian 1. Jakarta: PT. Pustaka Binamas Pressindo.

Djahir,Y & Pratita,D. (2014). Bahan ajar sistem informasi manajemen. Yogyakarta: Deepublish.

Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.

Prasojo. (2011). Pengantar sistem informasi manajemen. Bandung: CV. Remadja Karya.

Setiawan., Wawan., dan Munir. (2006). Pengantar teknologi informasi: Sistem informasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sutarman. (2012). Pengantar sistem informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.