Kamis, 07 April 2016

Skizofrenia

Skizofrenia

1.     Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotis dengan ciri-ciri pengunduran diri dari kehidupan sosial, gangguan emosional, dan afektif yang kadang kala disertai halusinasi dan delusi serta tingkah laku yang negatif atau merusak.
Penyakit ini sebenarnya sudah ditemukan secara khusus sekitar satu abad lalu oleh psikiater Jerman, Emil Kraeplin. Meski sudah lama ditemukan, hanya sedikit orang yang mengenal penyakit ini. Umumnya masyarakat masih menganggap bahwa penderita penyakit ini tidak produktif dan tidak akan punya masa depan lagi. Hal ini cenderung menghasilkan sikap dan tindakan negatif terhadap para penderita, seperti pemasungan, membiarkan mereka berkeliaran di jalan raya, bahkan ada yang tega memasukkan si penderita ke dalam kandang binatang. Sikap yang negatif ini justru memperburuk keadaan si penderita.

2.     Faktor-Fakor Penyebab Skizofrenia
Sebelum hadirnya pendekatan pada skizofrenia, banyak miots yang diterima masyarakat sebagai penyebab gangguan ini. Pertama, masyarakat menganggap penyakit ini disebabkan oleh kutukan yang hanya bisa disembuhkan oleh dukun melalui berbagai ritual. Kedua, menganggap penderita skizofrenia sebagai orang yang berbahaya dan selalu berbuat kekerasan. Ketiga, anggapan bahwa penyakit ini disebabkan oleh lemahnya iman seseorang, sehingga ia mudah dirasuki oleh roh-roh jahat. Konsekuensi logis dari adanya anggapan itu adalah dilakukan terapi eksorsis (pengusiran roh jahat) oleh dukun.
Pada abad ke-19, muncullah pendapat yang menganggap penyakit jiwa lebih disebabkan factor biologis (fisik). Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit jiwa disebabkan kurangnya insulin dalam tubuh. Untuk itu, dikembangkanlah terapi injeksi insulin. Juga mulai ada upaya bedah otak (di London), sebab ada keyakinan baru bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya kelainan pada otak pasien. Beberapa studi lain menunjukkan skizofrenia disebabkan oleh adanya infeksi virus pada otak; juga bisa bersifat inheritan atau keturunan.Beberapa teori lain menemukan ada faktor nutrisi, lingkungan, keluarga dan reaksi terhadap stress menjadi penyebab skizofrenia. Oleh karena itu, sampai saat ini terdapat banyak konsep tentang factor-fantor penyebabnya.
a.       Faktor Genetis
Dari studi terhadap keluarga para penderita, dijumpai presentasi yang lebih tinggi disbanding populasi umum. Demikian juga, pada studi anak kembar dijumpai kemungkinan yang cukup besar jika saudara kandung penderita adalah skizoprenik. Dari faktor genetis, skizofrenia diwariskan secara multifaktorial, yang artinya penyakit ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor genetis tetapi juga faktor lingkungan.
b.      Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi atau menyebabkan peyakit ini, antara lain: kebudayaan, ekonomi, pendidikan, faktor sosial, penggunaan obat-obatan, stress karena pemerkosaan, penganiayaan yang berat, perceraian, dan sebagainya.
c.       Faktor Biologis
Yang dimaksud dengan faktor biologis adalag faktor faali sebagai penyebab penyakit. Faktor faali bisa merupakan kerusakan jaringan otak atau struktur otak yang abnormal. Kerusakan ini biasanya dibawa sejak lahir.
d.      Faktor Psikososial
Menurut teori psikoanalitis, kerusakan yang menentukan penyakit mental adalah gangguan dalam organisasi “ego”, yang kemudian mempengaruhi cara interpretasi terhadap realitas dan kemampuan pengendalian dorongan seks.Teori ini beranggapan bahwa berbagai gejala skizofrenia memiliki arti simbolik untuk penderita secara individu, misalnya fantasi tentang kiamatnya dunia menunjukkan bahwa alam internal penderita telah hancur.



3.     Gejala-Gejala Skizofrenia
Kriteria resmi skizofrenia di seluruh dunia umumnya mengacu pada DSM-IV yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (sebuah buku panduan lengkap tentang penyakit jiwa). Kriteria diagnostik itu adalah adanya waham (delusi), halusinasi, bicara terdisorganisasi (sering menyimpang), perilaku yang terdisorganisasi, gejala negatif (pendataran afektif, tidak ada kemauan), dan terjadinya disfungsi sosial.
Tanda-tanda awal yang bisa dideteksi antara lain: penderita mudah curiga, cenderung depresi, cemas, tegang, gampang marah, cepat tersinggung, perasaannya mudah berubah, dan mengalami gangguan makan serta sulit tidur.

4.     Gejala-Gejala Khusus
Sampai saat ini telah ditemukan beberapa tipe penyakit ini, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Tipe Katatonik
Skizofrenia katatonik adalah satu bentuk skizofrenia dangan gangguan parah pada proses-proses mototrik. Ditandai dengan kegelisahan yang ekstrem (parah). Aktivitas motorik yang berlebihan atau hambatan motorik yang parah disertai negativisme (suatu perlawanan terhadap semua perintah / nasihat), stupor (keadaan tanpa rasa seperti rasa dibius), kegaduhan dan sikap mematung.
Gambaran penderita dalam tipe ini antara lain: anggota tubuh sering ditaruh dalam posisi yang tidak wajar atau dalam keadaan mematung selama beberapa saat (sulit sekali dirangsang dari luar). Pasien sering dalam keadaan tidur seolah-olah seperti kena sihir, namun pada waktu sedang aktif ia sering membuat kegaduhan dan menyerang orang lain. Kadang mempunyai kecenderungan bunuh diri dengan mencederai diri sendiri,
Gejala-gejala lainnya adalah roman mukanya sering menampakan rasa curiga, kesadarannya terganggu sehingga membuat perilaku dan aktivitas psikomotornya hiperaktif. Meskipun demikian, daya orientasinya masih berjalan baik, konsentrasi, daya ingat, dan kecerdasannya cukup, serta masih mampu menolong diri sendiri. Secara keseluruhan proses pikirnya cukup baik, ia sendiri menyadari dirinya sedang sakit.
b.  Tipe Hebefrenik
      Status mentalnya secara umum:
1)      Kesadaran rendah
2)      Perilaku dan aktivitas psikomotorik hiperaktif
3)      Pembicaraan secara kualitas kurang, tetapi secara kuantitas cukup
4)      Ekspresi afektifknya irritable
5)      Fungsi intelektual: daya konsentrasi cukup, orientasi (waktu, tempat, orang) baik
6)      Faktor stressor sosial tidak jelas
7)      Mengalami gangguan persepsi, ia menerima halusinasi akustik dan depersonalisasi
8)      Tidak merasa dirinya sedang sakit

5.     Terapi dan Pengobatan
Ada tiga pola utama terapi yang biasa digunakan: drugs therapy, psychoterapy, dan family and community support programme. Ada tiga jenis kelompok cara pengobatan yang diberikan: out patient therapy (menyediakan dukungan dalam menyesuaikan diri pada kehidupan normal dan mencegah agar tidak kumat), perawatan pada saat weekend, dan rawat inap. Tujuan pengobatan adalah mengembalikan penderita skizofrenia pada komunitas sesegera mungkin.
Terapi sosial sangat diperlukan. Skizofrenia memerlukan rahabilitasi intensif, sosial dan industrial, tetapi jumlah rangsangan harus cocok dengan kebutuhan individu. Rangsangan yang berlebihan terbukti menyebabkan kekambuhan, rangsangan yang terlalu kecil terbukti meneruskan terjadinya penarikan diri. Rehabilitasi harus dirancang dengan melibatkan pelayanan perawat, pekerja sosial, serta ahli terapi.




Sumber:
Mowbray, R. M., Timbury, G. C., Ingram, I. M., 1993. Psikiatri: Catatan kuliah. Jakarta: EGC.
Simanjuntak, Julianto. 2008. Konseling gangguan jiwa dan okultisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.