Skizofrenia
1.
Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia
adalah sekelompok reaksi psikotis dengan ciri-ciri pengunduran diri dari
kehidupan sosial, gangguan emosional, dan afektif yang kadang kala disertai
halusinasi dan delusi serta tingkah laku yang negatif atau merusak.
Penyakit
ini sebenarnya sudah ditemukan secara khusus sekitar satu abad lalu oleh
psikiater Jerman, Emil Kraeplin. Meski sudah lama ditemukan, hanya sedikit
orang yang mengenal penyakit ini. Umumnya masyarakat masih menganggap bahwa
penderita penyakit ini tidak produktif dan tidak akan punya masa depan lagi.
Hal ini cenderung menghasilkan sikap dan tindakan negatif terhadap para
penderita, seperti pemasungan, membiarkan mereka berkeliaran di jalan raya,
bahkan ada yang tega memasukkan si penderita ke dalam kandang binatang. Sikap
yang negatif ini justru memperburuk keadaan si penderita.
2.
Faktor-Fakor Penyebab Skizofrenia
Sebelum
hadirnya pendekatan pada skizofrenia,
banyak miots yang diterima masyarakat sebagai penyebab gangguan ini. Pertama,
masyarakat menganggap penyakit ini disebabkan oleh kutukan yang hanya bisa
disembuhkan oleh dukun melalui berbagai ritual. Kedua, menganggap penderita skizofrenia sebagai orang yang berbahaya
dan selalu berbuat kekerasan. Ketiga, anggapan bahwa penyakit ini disebabkan
oleh lemahnya iman seseorang, sehingga ia mudah dirasuki oleh roh-roh jahat.
Konsekuensi logis dari adanya anggapan itu adalah dilakukan terapi eksorsis
(pengusiran roh jahat) oleh dukun.
Pada
abad ke-19, muncullah pendapat yang menganggap penyakit jiwa lebih disebabkan
factor biologis (fisik). Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit
jiwa disebabkan kurangnya insulin dalam tubuh. Untuk itu, dikembangkanlah
terapi injeksi insulin. Juga mulai ada upaya bedah otak (di London), sebab ada
keyakinan baru bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya kelainan pada otak
pasien. Beberapa studi lain menunjukkan skizofrenia
disebabkan oleh adanya infeksi virus pada otak; juga bisa bersifat inheritan
atau keturunan.Beberapa teori lain menemukan ada faktor nutrisi, lingkungan,
keluarga dan reaksi terhadap stress menjadi penyebab skizofrenia. Oleh karena itu, sampai saat ini terdapat banyak
konsep tentang factor-fantor penyebabnya.
a. Faktor
Genetis
Dari studi terhadap keluarga para
penderita, dijumpai presentasi yang lebih tinggi disbanding populasi umum.
Demikian juga, pada studi anak kembar dijumpai kemungkinan yang cukup besar
jika saudara kandung penderita adalah skizoprenik. Dari faktor genetis, skizofrenia diwariskan secara
multifaktorial, yang artinya penyakit ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor
genetis tetapi juga faktor lingkungan.
b. Faktor
Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang
mempengaruhi atau menyebabkan peyakit ini, antara lain: kebudayaan, ekonomi,
pendidikan, faktor sosial, penggunaan obat-obatan, stress karena pemerkosaan,
penganiayaan yang berat, perceraian, dan sebagainya.
c. Faktor
Biologis
Yang dimaksud dengan faktor
biologis adalag faktor faali sebagai penyebab penyakit. Faktor faali bisa
merupakan kerusakan jaringan otak atau struktur otak yang abnormal. Kerusakan
ini biasanya dibawa sejak lahir.
d. Faktor
Psikososial
Menurut teori psikoanalitis,
kerusakan yang menentukan penyakit mental adalah gangguan dalam organisasi “ego”,
yang kemudian mempengaruhi cara interpretasi terhadap realitas dan kemampuan
pengendalian dorongan seks.Teori ini beranggapan bahwa berbagai gejala skizofrenia memiliki arti simbolik untuk
penderita secara individu, misalnya fantasi tentang kiamatnya dunia menunjukkan
bahwa alam internal penderita telah hancur.
3.
Gejala-Gejala Skizofrenia
Kriteria
resmi skizofrenia di seluruh dunia
umumnya mengacu pada DSM-IV yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (sebuah buku panduan lengkap
tentang penyakit jiwa). Kriteria diagnostik itu adalah adanya waham (delusi),
halusinasi, bicara terdisorganisasi (sering menyimpang), perilaku yang
terdisorganisasi, gejala negatif (pendataran afektif, tidak ada kemauan), dan
terjadinya disfungsi sosial.
Tanda-tanda
awal yang bisa dideteksi antara lain: penderita mudah curiga, cenderung
depresi, cemas, tegang, gampang marah, cepat tersinggung, perasaannya mudah
berubah, dan mengalami gangguan makan serta sulit tidur.
4.
Gejala-Gejala Khusus
Sampai saat ini
telah ditemukan beberapa tipe penyakit ini, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.
Tipe Katatonik
Skizofrenia
katatonik adalah satu bentuk skizofrenia
dangan gangguan parah pada proses-proses mototrik. Ditandai dengan kegelisahan
yang ekstrem (parah). Aktivitas motorik yang berlebihan atau hambatan motorik yang
parah disertai negativisme (suatu perlawanan terhadap semua perintah /
nasihat), stupor (keadaan tanpa rasa seperti rasa dibius), kegaduhan dan sikap
mematung.
Gambaran penderita dalam tipe ini antara lain:
anggota tubuh sering ditaruh dalam posisi yang tidak wajar atau dalam keadaan
mematung selama beberapa saat (sulit sekali dirangsang dari luar). Pasien sering
dalam keadaan tidur seolah-olah seperti kena sihir, namun pada waktu sedang
aktif ia sering membuat kegaduhan dan menyerang orang lain. Kadang mempunyai
kecenderungan bunuh diri dengan mencederai diri sendiri,
Gejala-gejala lainnya adalah roman mukanya sering
menampakan rasa curiga, kesadarannya terganggu sehingga membuat perilaku dan
aktivitas psikomotornya hiperaktif. Meskipun demikian, daya orientasinya masih
berjalan baik, konsentrasi, daya ingat, dan kecerdasannya cukup, serta masih
mampu menolong diri sendiri. Secara keseluruhan proses pikirnya cukup baik, ia
sendiri menyadari dirinya sedang sakit.
b. Tipe Hebefrenik
Status mentalnya secara umum:
1) Kesadaran
rendah
2) Perilaku
dan aktivitas psikomotorik hiperaktif
3) Pembicaraan
secara kualitas kurang, tetapi secara kuantitas cukup
4) Ekspresi
afektifknya irritable
5) Fungsi
intelektual: daya konsentrasi cukup, orientasi (waktu, tempat, orang) baik
6) Faktor
stressor sosial tidak jelas
7) Mengalami
gangguan persepsi, ia menerima halusinasi akustik dan depersonalisasi
8) Tidak
merasa dirinya sedang sakit
5.
Terapi dan Pengobatan
Ada
tiga pola utama terapi yang biasa digunakan: drugs therapy, psychoterapy, dan family and community support programme. Ada tiga jenis kelompok cara
pengobatan yang diberikan: out patient
therapy (menyediakan dukungan dalam menyesuaikan diri pada kehidupan normal
dan mencegah agar tidak kumat), perawatan pada saat weekend, dan rawat inap. Tujuan pengobatan adalah mengembalikan
penderita skizofrenia pada komunitas
sesegera mungkin.
Terapi
sosial sangat diperlukan. Skizofrenia
memerlukan rahabilitasi intensif, sosial dan industrial, tetapi jumlah rangsangan
harus cocok dengan kebutuhan individu. Rangsangan yang berlebihan terbukti
menyebabkan kekambuhan, rangsangan yang terlalu kecil terbukti meneruskan
terjadinya penarikan diri. Rehabilitasi harus dirancang dengan melibatkan
pelayanan perawat, pekerja sosial, serta ahli terapi.
Sumber:
Mowbray, R. M., Timbury, G. C., Ingram,
I. M., 1993. Psikiatri: Catatan kuliah.
Jakarta: EGC.
Simanjuntak, Julianto. 2008. Konseling gangguan jiwa dan okultisme.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar